Jumat, 26 Oktober 2012

BERQURBAN dengan KEIKHLASAN BERKORBAN

Hari Raya selalu menjadi hal yang begitu sakral, terlebih bagi kita yang menjadikan aspek spiritualitas sebagai pedoman dalam menjalani kehidupannya. Hari raya menjadi penting karena memiliki nilai-nilai yang tidak bisa tergantikan dengan hal lain, entah itu karena sejarahnya yang berisi nilai-nilai kemanusiaan secara horizontal, ataupun nilail-nilai ketuhanan secara vertikal.
Hari Raya, setiap peringatanya selalu mencirikan kehkhasannya. Dalam Islam misalnya, Hari Raya Idul Fitri memilki ciri khas karena adanya ritual mudik. Kemudian Hari Raya Idul Adha yang baru saja kita sambut dengan suka citanya pun memiliki ciri khas karena adanya ritual-ritual menyembelih hewan qurban. Kekhasan yang ditampilkan masing-masing memilki nilai-nilai yang bermakna, mulai dari nilai spiritualitas, nilai sosial, sampai pada nilai kultural.
Idul Adha tidak hanya sekedar berqurban lantas ibadah dikesampingkan, berqurban tidak hanya sekedar berkorban, akan tetapi berkorban dengan segenap keikhlasan harta, jiwa, dan raganya. Seperti yang disampaikan diatas tadi, setiap inchi dari peringatan Hari Raya selalu memilki makna. Idul Adha setidaknya memiliki dua nilai dari kekhasannya itu, yaitu nilai kesalehan ritual, nilai kesalehan sosial, dan nilai kesalehan kontinuitas. Pertama, kesalehan ritual digambarkan dengan pengorbanan untuk berqurban secara ikhlas, artinya kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental secar ikhlas. Kedua, kesalehan sosial digambarkan dengan mempunyai hubungan yang erat antara qurban dengan dimensi sosial kemanusiaan yang bersifat universal. Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang menyebabkan Idul Adha memiliki dimensi sosial kemanusiaan yang universal?.
Ya, bukankah bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging qurban?. Lantas sesungguhnya Islam itu mengajarkan umatnya untuk memiliki rasa kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan untuk bisa saling berbagi atau memberi, saling menyayangi terhadap sesama. Bukan mengajarkan terhadap kekerasan atapunun kebencaian. Maka tidak heran apabila Hari Raya Idul Adha ini daging qurban dibagikan terutama kepada orang-orang yang lebih membutuhkan.
Ketiga, Kesalehan kontinuitas digambarkan dengan kesalehan ritual dan kesalehan sosial yang bersifat kontinu (terus-menerus). Artinya, walaupun perayaan Idul Adha sekaligus penyembelihan hewan qurban memilki rentang waktu (10-13 Dzulhijjah) bukan berarti nilai ketaatan melasanakan perintah tuhan secara Ikhlas dan kesediaan berbagi dengan orang lain yang lebih membutuhkan berhenti begitu saja. Harus adanya keberlangsungan untuk tetap taat menjalankan perintah-Nya kapanpun dan dimanapun.

Memaknai Idul Adha
Idul Adha. Itulah hari raya yang mewakili satu diantara dua dari hari raya umat Islam di seluruh dunia. Idul berari kembali yang berasal dari etimologi bahasa arab âda-ya’ûdu-awdatan wa ‘îdan, sedangkan adha berarti berqurban berasal dari Adha-Yudhî-udhiyatan. Sedangkan qurban sendiri berasal dari kata qarraba-yuqarribu, yang bermakna "mendekatkan". Mendekatkan disini dimaksudkan untuk mendekatkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, dengan melaksanakan segala syariat dan perintah-Nya, salah satunya terimplementasi dalam mendekatkan diri kepada sesama manusia khusunya untuk mereka yang lebih membutuhkan.
Kita semua (umat Islam) mengetahui bahwa peringatan dari Idul Adha berbeda dengan Idul fitri. Ya, perbedaannya terletak pada adanya ritual religius penyembelihan hewan qurban pada Idul Adha yang tidak kita temukan pada peringatan hari raya Idul Fitri. Akan tetapi perbedaan itu hanya bersifat objektif saja. Artinya, hewan qurban adalah sebagai bentuk objek dari ritual yang mencirikhaskan peringatan Idul adha. Walaupun berbeda, akan tetapi bukannya perbedaan itu yang kita lebih tekankan. Yang terpenting adalah esensi dari bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Tuhan-Nya, bentuk keihkhlasan seorang hamba dalam beribadah kepada-Nya, serta bentuk pengorbanan dan pengabdian seorang hamba dalam berqurban.
Coba mari kita menilik kembali ke masa lampau. Singkat cerita, pada akhirnya setelah sekian lama mendambakan anak dan tak kunjung memiliki anak. Permohonan Nabi Ibrahim kepada Tuhannya agar dianugrahi anak akhirnya dikabulkan juga oleh Tuhannya. Allah SWT menganugrahinya seorang anak yang sabar yang kita kenal dengan Nabi Ismail. Tetapi tidak sebatas itu, Allah mencoba menguji ketaatan, ketakwaan, dan pengabdian seorang Nabi Ibrahim AS kepada-Nya. Ya, seorang anak yang didamba-dambakannya, seorang anak yang sangat disayanginya, serta seorang anak yang diharapkan dapat menjadi penerus dalam menyebarkan agama Allah yang tidak disangka akan menjadi objek dari perintah Tuhannya untuk disembelih.
Pada suatu waktu Nabi Ibrahim mendapatkan isyarat dari Allah SWT lewat mimpinya yang untuk menyembelih putranya Ismail AS. Ketika itu pulalah nabi Ibrahim berada dalam keadaan yang serba dilematis. Dilematis antara menuruti perintah Tuhannya sehingga berarti dia taat menjalankan perintah-Nya yaitu mengedepankan kecintaannya yang tinggi (al-mahabbatul ulya), daripada menuruti hawa nafsunya yang berarti ia menolak untuk menyembelih putranya sebagai bentuk penolakan perintah Tuhann-Nya yaitu dengan mengutamakan kecintaannya yang rendah kepada anaknya (al-mahabbatul adna).
Suatu keputusan final Nabi Ibrahim adalah menomor satukan ketaatannya kepada Tuhannya diatas kecintaannya terhadap yang lain dengan jalan menyembelih putranya Ismail AS. Namun atas kehendak Allah SWT, pada akhirnya sang putra telah digantikan dengan seekor hewan qurban.
Hikmah Qurban
Dimana ada kisah disitu ada hikmah. Ya, pelajaran mendasar dari kisah nabi Ibrahim AS yang bisa kita ambil adalah adanya bentuk pengorbanan yang sangat mendalam. Pengorbanan demi suatu keyakinan yang kuat akan nilai kebaikan, pengorbanan akan pengutamaan cinta kepada-Nya melebihi kecintaan kepada yang lainnya, pengorbanan utuk kembali kepada dasar-dasar tauhid islamiyah.
Allahu Akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaha illaAllah, huwaallahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd. Gema takbir, tahlil, dan tahmid yang selalu dikumandangkan sahut-menyahut di seantero jagat akan menjadi modal dasar bagi pengikraran seorang hamba dalam menjalankan ketakwaan. Ya, inti makna qurban di Hari Raya Idul Adha memanglah berkorban, namun bukan sekedar mengorbankan hewan atau menitipkan kepentingan pribadi sebagai ‘kompensasi’. Lebih dari itu, yakni berkorban sepenuh keikhlasan hati dan jiwa untuk bisa saling berbagi demi mencapai derajat seorang hamba yang taqwa di hadapan-Nya dengan melakasanakan segala perintah-Nya kapanpun, dimanapun, dan selalu bersifat kontinu (terus-menerus). Semoga keikhlasan berqurban bisa memperkuat solidaritas kita terhadap sesama serta bisa memperkuat ketakwaan kita kepada-Nya. Aamiin.


Surakarta, 26 Oktober 2012


-Redza Dwi Putra-

Reaksi:

0 comment:

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review